induk kalimat | puisi

copyright: © Cloudy Thurstag 2015. All rights reserved.

sebuah puisi untuk semua perempuan, terlebih, untuk ibu yang juga menjadi ayah. terima kasih,

aku menyambut bulan, seperti
ibu menyambut anaknya sepulang sekolah.
aku kesulitan tidur di malam hari, karena
sibuk mendongengi anak perempuanku.

aku menceritakan setiap sisi emosi yang pernah kusentuh.
menjadi ibu memang selalu indah, meski aku sempat ragu, dulu.

kalau anakku jatuh, mungkin tanganku sudah terlalu tua
untuk masih menitihnya berjalan. kemudian ia akan
menangis dan membangunkan seisi rumah bahkan tetangga.
tidak semua tetangga akan menyukai anak perempuanku.

tapi ia akan tumbuh besar di dalam pelukan perempuan
yang mengajarkannya untuk tidak mencintai laki-laki
sepenuh hidupnya. aku menyiapkan hatinya lebih kuat dari kakinya,
agar ia tidak jatuh terlalu dalam pada patah hatinya, kelak.
semisal, aku sudah pergi saat itu.

kemudian ia akan belajar dengan jemarinya sendiri,
mengisi ruang kosong dalam dirinya dengan tulisan.
ia akan belajar melukis dirinya sendiri dalam hujan.
sulit untuk kering, tetapi saat reda segalanya akan terlihat indah.

ia akan menjadi perempuan utuh tanpa perlu digenggam seorang laki-laki.
agar kamu lebih membutuhkan dirimu dibanding mereka, kukatakan.
tetapi aku sedang berbicara tentang bulan, dan
aku selalu bertanya kemana perginya ibu dan ayah bulan. 

induk kalimat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s